BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN WEWENANG, KEKUASAAN DAN PENGARUH
Wewenang
Wewenang (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau
memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar
tercapai tujuan tertentu (Hani Handoko,1984: 214). Sebagai contoh, seorang
menajer dalam suatu organisasi mempunyai hak untuk memberikan perintah dan
tugas, serta menilai pelaksanaan karyawan di bawahnya. Wewenang yang dimiliki
oleh seorang manajer ini merupakan hasil dari delegasi atau pelimpahan wewenang
dari manajer yang di atasnya.
Terdapat dua pandangan yang berlawanan mengenai sumber wewenang, yakni
teori formal (pandangan klasik) dan teori penerimaan. Pandangan menurut teori
formal menyebutkan bahwa wewenang adalah dianugerahkan. Wewenang ada karena
seseorang tersebut diberi, dilimpahi atau diwarisi hal tersebut. Pandangan ini
menganggap bahwa wewenang berasal dari tingkat masyarakat yang sangat tinggi
dan kemudian secara hukum diturunkan dari tingkat ke tingkat. Pendangan klasik
ini menelusuri sumber tertinggi dari wewenang ke atas sampai sumber terakhir,
di mana untuk organisasi perusahaan adalah pemilik atau pemegang saham.
Pandangan teori penerimaan (acceptance
theory of authority) menyanggah teori formal yang menyebutkan bahwa
wewenang tersebut dianugerahkan. Teori penerimaan berpendapat bahwa wewenang
seseorang timbul hanya bila hal itu diterima oleh kelompok atau individu kepada
siapa wewenang tersebut dijalankan. Kunci dasar wewenang ada pada yang
dipengaruhi (influencee) bukan ada pada yang mempengaruhi (influencer).
Jadi wewenang ada atau tidak tergantung dari si penerima
yang memutuskan untuk menerima atau tidak.
Kekuasaan
Kekuasaan (power) sering diartikan atau dicampuradukkan dengan
wewenang. Kekuasaan dan wewenang berbeda meskipun sering ditemui bersama. Bila
wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu, maka kekuasaan adalah kemampuan
untuk melakukan hak tersebut. Jadi, kekuasaan dapat diartikan kemampuan untuk
melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu agar tujuan tercapai.
Menurut Amitai Etzioni, seorang pemimpin dapat mempengaruhi perilaku adalah
hasil dari kekuasaan posisi (kedudukan atau jabatan) atau kekuasaan pribadi
atau kombinasi dari keduanya.
Kekuasaan posisi didapat dari wewenang formal suatu organisasi. Besarnya
kekuasaan ini tergantung seberapa besar wewenang didelegasikan kepada individu
yang menduduki posisi tersebut. Kekuasaan posisi akan semakin besar jika atasan
mempercayai individu tersebut.
Kekuasaan pribadi didapatkan dari para pengikut dan didasarkan atas
seberapa besar para pengikut mengagumi, respek dan merasa terikat pada seorang
pemimpin.
Sumber kekuasaan merupakan sumber di mana kekuasaan tersebut didapatkan. Sumber-sumber
kekuasaan tersebut antara lain:
- Kekuasaan balas jasa (reward power)
Kekuasaan ini berasal
dari sejumlah balas jasa positif (uang, perlindungan, kesejahteraan,
perkembangan karier, dan sebagainya) yang diberikan kepada pihak penerima untuk
melaksanakan perintah atau persyaratan lainnya.
- Kekuasaan paksaan (coercive power)
Kekuasaan ini berasal dari perkiraan yang dirasakan orang
bahwa hukuman (punishment) akan diterimanya bila mereka tidak melaksanakan
perintah pimpinan.
- Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan ini
berkembang dari nilai-nilai intern yang mengemukakan bahwa seorang pemimpin
mempunyai hak sah untuk mempengaruhi pimpinan. Seseorang mempunyai kewajiban untuk menerima pengaruh
tersebut karena seorang lain ditentukan sebagai pemimpinnya atau manajernya.
- Kekuasaan pengendalian informasi (control of information power)
Kekuasaan ini berasal dari pengetahuan di mana orang lain
tidak memilikinya. Cara ni digunakan dengan pemberian atau penahanan informasi
yang dibutuhkan.
- Kekuasaan panutan (referent power)
Kekuasaan ini didasarkan atas identifikasi orang-orang
dengan seorang pemimpin dan menjadikan pemimpin itu sebagai panutan atau simbol.
Faktor-faktor penting dalam kekuasaan panutan seperti karisma pribadi,
keberanian, simpatik, dll.
- Kekuasaan ahli (expert power)
Kekuasaan ini
merupakan hasil dari keahlian atau ilmu pengetahuan seorang pemimpin dalam
bidangnya di mana pemimpin tersebut ingin mempengaruhi orang lain.
David McClelland mengemukakan ada dua muka dari kekuasaan, yaitu sisi
negatif dan sisi positif. Sisi negatif mengandung arti bahwa memiiliki
kekuasaan berarti menguasai orang lain yang lebih lemah. Kepemimpinan yang didasarkan
atas sisi negatif memperlakukan orang sebagai “bidak” yang digunakan atau
dikorbankan bila perlu.
Di lain pihak, sisi positif kekuasaan ditandai dengan perhatian pada
pencapaian tujuan kelompok. Manajer yang menggunakan kekuasaan positif
mendorong anggota kelompok untuk mengembangkan kekuatan dan kecakapan yang
mereka butuhkan untuk meraih sukses sebagai perseorangan atau anggota suatu
organisasi.
Lingkupan Wewenang dan Kekuasaan
Semua anggota organisasi mempunyai peraturan, kode etik, atau batasan-batasan
tertentu pada wewenangnya masing-masing. Lingkungan wewenang dan kekuasaan
manajerial ini akan semakin luas pada manajemen puncak suatu organisasi dan
semakin menyempit pada tingkatan yang semakain rendah dari rantai komando.
Tanggung jawab dan Akuntabilitas
Tanggung jawab (responsibility) adalah kewajiban untuk melakukan
sesuatu yang timbul bila seorang bawahan menerima wewenang manajer untuk
mendelegasikan tugas atau fungsi tertentu. Istilah lain yang sering digunakan
adalah akuntabilitas yang berkenaan dengan kenyataaan bahwa bawahan akan selalu
diminta pertanggungjawabannya atas pemenuhan tanggung jawab yang dilimpahkan
kepadanya. Akuntabilitas adalah faktor di luar individu dan perasaan
pribadinya. Pemegang akuntabilitas berarti bahwa seorang atasan dapat
membelakukan hukuman atau balas jasa kepadanya tergantung bagaimana dia sebagai
bawahan.
Persamaan Wewenang dan Tanggung Jawab
Salah satu prinsip organisasi yang penting adalah bahwa individu-individu
seharusnya diberi wewenang untuk melakukan tanggung jawabnya. Sebagai contoh,
bila tanggung jawab seorang manajer mempertahankan kapasitas produksi tertentu,
maka dia harus diberi kebebasan secukupnya untuk membuat keputusan-keputusan
yang mempengaruhi kapasitas produksi.
Wewenang dan tanggung jawab adalah sama dalam jangka panjang. Dalam jangka
pendek, tanggung jawab seorang manajer hampir selalu lebih besar dari
wewenangnya, karena ini merupakan ciri delegasi.
Pengaruh
Pengaruh (influence) adalah suatu interaksi sosial di mana seseorang
atau sekelompok dibujuk oleh seseorang atau kelompok lain untuk melakukan
kegiatan sesuai dengan harapan mereka yang mempengaruhi (Hani Handoko, 1984:
218).
Pengaruh tercermin pada perubahan perilaku atau sikap yang diakibatkan
secara langsung dari tindakan atau keteladanan orang atau kelompok lain.
Pemgaruh dapat timbul karena status jabatan, kekuasaan mengawasi dan menghukum,
pemilikan informasi lebih lengkap, ataupun penguasaan saluran komunikasi yang
lebih baik. Proses pengaruh tergantung pada tiga unsur, yaitu pihak yang
mempengaruhi, metode mempengaruhi dan pihak yang dipengaruhi.
STRUKTUR LINI DAN STAF
Organisasi Lini
Semua organisasi mempunyai sejumlah fungsi-fungsi dasar yang harus
dilaksanakan. Organisasi perusahaan biasanya memiliki tiga fungsi dasar, yakni
produksi (manufacturing atau operasi), pemasaran, dan keuangan.
Fungsi-fungsi dasar tersebut dilaksanakan oleh semua organisasi, baik
manufacturer, pedagang eceran, perusahaan jasa, ataupun perusahaan nirlaba.
Fungsi-fungsi tersebut biasanya disusun dalam suatu organisasi lini di mana
rantai perintah adalah jelas dan mengalir kebawah melalui tingkatan manajerial.
Organisasi Lini dan Staf
Staf merupakan individu atau kelompok (terdiri dari para ahli) dalam
stuktur organisasi yang fungsi utamanya memberikan saran dan pelayanan kepada
fungsi lini. Karyawan staf atau staf departemen tidak secara langsung terlibat
dalam kegiatan utama organisasi atau departemen. Sebagai contoh, staf spesialis
pemeliharaan tidak menciptakan produk, menjual, dan mengelola keuangan.
Beberapa alasan mengapa organisasi perlu membedakan antara-antara kegiatan
lini dan staf. Pertama, karena kegiatan-kegiatan lini mencerminkan pekerjaan
pokok organisasi. Manajemen puncak harus secara khusus memperhatikan kebutuhan
integritas dan pengaruh departemen-departemen tersebut.
Kedua, pengetatan yang harus dibuat organisasi dalam waktu krisis sangat
ditentukan oleh pilihan tehadap departemen lini atau staf. Sebagai contoh,
suatu perusahaan yang sedang mengalami penurunan permintaan produknya cenderung
melakukan pengetatan terutama pada departemen lini. Di lain pihak, jika
permintaan tetap kuat tetapi organisasi perlu menekan biaya, maka pengetatan
lebih cenderung dilakukan pada departemen staf.
Ada dua tipe staf, yaitu staf pribadi dan staf spesialis. Staf pribadi
dibentuk untuk memberikan saran, bantuan dan jasa kepada seorang manajer. Staf
pribadi kadang kala disebut sebagai asisten atau asisten staf yang tugasnya
biasanya generalis.
Sedangkan staf spesialis memberikan saran, konsultasi, bantuan, dan
melayani seluruh lini dan unsur organisasi. Disebut staf spesialis karena
fungsinya sempit atau khusus dan membutuhkan keahlian khusus.
WEWENANG LINI, STAF DAN FUNGSIONAL
Wewenang Lini
Wewenang lini (line authority) adalah wewenang di mana atasan melakukannya
atas bawahannya langsung. Ini diwujudkan dalam wewenang perintah dan secara
langsung tercermin sebagai rantai perintah, serta diturunkan ke bawah melalui
tingkatan organisasi.
Wewenang Staf
Wewenang staf (staff authority) adalah hak yang dimiliki oleh
satuan-satuan staf atau para spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi,
atau konsultasi kepada personalia lini. Ini tidak memberikan wewenang kepada
anggota staf untuk memerintah lini mengerjakan kegiatan tertentu.
Wewenang Staf
Fungsional
Wewenang staf fungsional (functional
staff authority) adalah hubungan terkuat yang dapat dimiliki staf dengan
satuan-satuan lini. Bila dilimpahi wewenang fungsional oleh manajemen puncak,
seorang staf spesialis mempunyai hak untuk memerintah satuan lini sesuai kegiatan
fungsional di mana hal itu merupakan spesialisasi dari staf bersangkutan.
Sebagai contoh, seorang spesialis keamanan mungkin mempunyai wewenang untuk
memerintah manajer laboratorium penelitian untuk menutup laboratorium bila gas
berbahaya mencapai tingkat tertentu yang membahayakan.
DELEGASI WEWENANG
Delegasi adalah pelimpahan wewenang dan
tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
Delegasi wewenang adalah proses dimana
para manajer mengalokasikan wewenang kebawah kepada orang-orang yang melapor
kepadanya.
Empat hal yang terjadi saat delegasi diakukan;
- Pendelagisian menetapkan dan memberikan tujuan dan tugas kepada bawahan.
- Pendelegasian melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan atau tugas
- Penerimaan delegasi menimbulkan kewajiban dan tanggung jawab.
- Pendelegasi menerima pertanggungjawaban dari bawahan untuk hasil yang dicapai.
Alasan-alasan pendelegasian
- Pendelegasian memungkinkan manajer untuk mencapai hasil yang lebih baik dari pada mereka menangani sendiri.
- Delegasi dari atasan kepada bawahan adalah proses yang diperlukan agar organisasi dapat berfungsi lebih efisien.
- Delegasi memungkinkan manajer untuk memusatkan tenaganya untuk tugas-tugas prioritas yang lebih penting.
- Delegasi memungkinkan bawahan untuk berkembang dan dapat digunakan alat untuk belajar dari kesalahan.
- Delegasi dibutuhkan karena manajer tidak selalu mempunyai semua pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan dan tidak selalu memahami masalah yang lebih terperinci. Sehingga dibutuhkan organ yang serendah mungkin untuk menangani masalah yang makin rinci dimana terdapat cukup kemampuan dan informasi untuk menyelesaikannya.
Beberapa Pedoman Klasik yang dapat Dijadikan Dasar untuk Delegasi efektif
- Prinsip saklar
Dalam proses pendelegasian harus ada garis wewenang yang
jelas mengalir setingkat demi setingkat dari tingkatan paling atas ke tingkatan
paling bawah. Garis wewenang yang jelas akan membuat lebih mudah bagi setiap
organ untuk mengetahui kepada siapa dia dapat mendelegasikan, dari siapa dia
akan menerima delegasi, dan kepada siapa dia harus bertanggung jawab.
Dalam pembuatan garis wewenang dibutuhkan delegasi penuh,
yang berarti bahwa semua tugas organisasi harus dibagi habis. Supaya di
organisasi terhindar dari terjadinya;
- gaps, yaitu tugas yang tidak ada penanggung jawabnya .
- overlaps, tanggung jawab atas tugas yang diberikan kepada lebih dari satu orang individu.
- Splits, tanggung jawab atas tugas yang sama diberikan kepada lebih dari satu satuan organisasi.
Apabila ini terjadi akan menimbulkan kebalauan wewenang
dan akuntabilitas.
- Prinsip kesatuan perintah
Prinsip ini menyatakan bahwa setiap bawahan di organisasi
seharusnya melapor hanya kepada seorang atasan. Dengan prinsip ini maka membuat
setiap organ yang diberi tugas akan lebih mudah untuk memberi
pertanggungjawaban atas tugasnya.
- Tanggung jawab, wewenang, dan akuntabilitas
Prinsip ini menyatakan bahwa;
- Tanggung jawab untuk tugas-tugas tertentu diberikan ke tingkatan organisasi yang paling bawah dimana didapatkan cukup kemampuan dan informasi agar tercipta keefisienan sumber daya organisasi.
- Setiap organ didalam organisasi harus dilimpahi wewenang agar organisasi dapat lebih efektif.
- Manajer harus mempertanggungjawabkan tugas-tugas bawahannya disamping mempertanggunjawabkan tugasnya sendiri.
Beberapa Alasan Kegagalan Manajer dalam Mendelegasikan Tugas :
1. Manajer merasa lebih bila mereka tetap mempertahankan hak
pembuatan keputusan.
2. Manajer takut akan resiko kegagalan bawahannya dalam
melaksanakan tugasnya atau manajer kurang percaya akan kemampuan anak buahnya.
3. Manajer merasa bahwa bawahan lebih senang tidak mempunyai
hak pembuatan keputusan yang luas.
4. Manajer takut bila bawahan menjalankan tugasnya secara
efektif sehingga posisinya sendiri akan terancam.
5. Manajer tidak memiliki kemampuan manajerial untuk
menjalankan tugasnya.
Beberapa Alasan Bawahan Tidak Bersedia Menerima Delegasi
1. Dengan menerima
delegasi maka bawahan menerima tanggung jawab dan akuntabilitas baru. Kadang
para bawahan beranggapan lebih mudah menyeesaikan masalah dengan melimpahkan
kepada manajer dari pada ditangani sendiri.
2. Bawahan merasa
takut akan kesalahan yang dibuat dalam melaksanakan delegasi sehingga mereka
akan menerima kritik.
3. Kurangnya rasa
percaya diri dari para bawahan dan merasa tertekan apabila dilimpahi wewenang.
Penanggulangan
Hambatan Dalam Delegasi
Louis Allen
mengemukakan beberapa teknik kusus untuk membantu manajer melaksanakan delegasi
efektif.
1. Tetapkan tujuan
Bawahan diberi maksud dan tujuan akan pentingnya tugas-tugas yang
didelegasikan kepada mereka.
2. Tegaskan tanggung
jawab dan wewenang
Bawahan harus diberi informasi yang jelas tentang apa yang harus mereka
pertanggung jawabkan dan mana saja yang ditempatkan di bawah wewenangnya.
3. Berikan motivasi
kepada bawahan
Manajer dapat memberi dorongan kepada bawahan melalui perhatian akan
kebutuhan dan tujuan mereka yang sensitif.
4. Meminta
penyelesaian kerja
Manajer harus meminta ketuntasan kerja dari para bawahan.
5. Berikan latihan
Manajer perlu mengarahkan bawahan untuk mengembangkan peaksanaan kerjanya.
6. Adakan Pengawasan
yang memadai
Sistim pengawasan terpercaya seperti laporan mingguan dibuat agar manajer
tidak perlu mneghabiskan dengan waktunya dengan memeriksa pekerjaan bawahan
terus menerus.
SENTRALISASI
VERSUS DESENTRALISASI
Desentralisasi adalah konsep yang lebih luas dan
berhubungan dengan seberapa jauh manajemen puncak mendelegasikan wewenang ke
bawah ke divisi-divisi , cabang-cabang atau satuan-satuan organisasi tingkat
lebih bawah lainnya.
Sentralisasi adalah pemusatan kekuasaan dan wewenang pada tingkatan atas
suatu organisasi.
Keuntungan-keuntungan desentralisasi adalah sama dengan
keuntungan-keuntungan delegasi, yaitu mengurangi beban manajer puncak,
memperbaiki pembuatan keputusan karena dilakukan dekat dengan permasalahan,
meningkatkan latihan, moral dan inisiatif menejemen bawah, dan membuat lebih
fleksibel dan lebih cepat dalam pembuatan keputusan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat desentralisasi
1. Filsafat manajemen. Banyak manajer puncak yang
menginginkan pengawasan pusat yang kuat sehingga mempengaruhi kesediaan
manajemen untuk mendelegasikan wewenangnya.
2. Ukuran dan tingkat pertumbuhan organisasi. Organisasi
tidak mungkin efisien bila semua wewenang pembuatan keputusan ada pada satu
atau beberapa manajer pusat saja.Suatu organisasi yang tumbuh besar akan
cenderung meningkatkan desentralisasi.
3. Strategi dan lingkungan organisasi. Strategi
organisasi akan mempengaruhi tipe pasar, lingkungan teknologi, dan persaingan
yang harus dihadapinya.
4. Penyebaran geografis organisasi. Semakin menyebarnya
satuan-satuan organisasi secara geografis , organisasi akan cenderung melakukan
desentralisasi karena pembuatan keputusan akan sesuai dengan kondisi lokal
masing-masing.
5. Tersedianya peralatan pengawasan yang efektif.
Organisasi yang kekurangan peralatan efektif untuk pengawasan akan cenderung
melakukan sentralisasi jika manajemen tidak dapat memonitor bawahannya dengan
mudah.
6. Kualitas manajer. Desentralisasi memerlukan banyak
manajer yang berkualitas karena mereka harus mambuat keputusan sendiri.
7. Keaneka-ragaman produk dan jasa. Makin beranekaragam
produk yang ditawarkan, organisasi cenderung melakukan desentralisasi, dan
semakin tidak beranekaragam lebih cenderung melekukan sentralisasi.
8. Karakteristik-karakteristik organisasi lainnya,
seperti biaya dan resiko yang berhubungan dengan pembuatan keputusan, sejarah
pertumbuhan organisasi, kemampuan manajemen bawah, dan sebagainya.
PENYUSUNAN PERSONALIA ORGANISASI
Penyusunan personalia adalah fungsi manajemen yang
berkenaan dengan penarikan, penempatan, pemberian latihan dan pengembangan
anggota-anggota organisasi. Kegiatan penyusunan personalia sangat erat
hubunganya dengan tugas-tugas kepemimpinan, motivasi dan komunikasi.
PROSES PENYUSUNAN PERSONALIA.
Staffing process dipandang sebagai serangkaian kegiatan
yang dilaksanakan terus menerus untuk menjaga pemenuhan kebutuhan personalia
organisasi dalam orang-orang yang tepat dalam posisi yang tepat dan waktu yang
tepat. Langkah-langkah
proses ini mencakup :
1. Perencanaan SDM, direncanakan untuk menjamin keajegan dan pemenuhan kebutuhan personalia
organisasi.
2. Penarikan, berhubungan
dengan pengadaan calon personalia segaris dengan rencana SDM.
3. Seleksi,
penilaian dan pemilihan diantara calon-calon personalia.
4. Pengenalan dan orintasi, dirancang untuk individu yang terpilih guna menyesuaikan diri dengan
lancar dalam organisasi.
5. Latihan dan pengembangan, untuk meningkatkan kemampuan individu dan kelompok guna mendorong
efektivitas organisasi.
6. Penilaian pelaksanaan kerja, membandingkan pelaksanaan kerja dengan standar tujuan.
7. Pemberian balas jasa dan penghargaan, sebagai balas jasa dan motivasi bagi karyawan.
8. Perencanaan dan
pengembangan karier, mencakup transfer, pemecatan,
pemberhentian.
PERENCANAAN SUMBER
DAYA MANUSIA
Ada tiga bagian
perencanaan personalia : (1) penentuan jabatan yang harus diisi, kemampuan
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut dan jumlah karyawan yang
dibutuhkan. (2) potensi
karyawan tentang pemahaman pasar tenaga kerja. (3) petimbangan kondisi
permintaan dan penawaran karyawan.
Penentuan Kebutuhan Jabatan.
Penyusunan personalia organisasi dimulai dengan penentuan
tujuan dan rencana organisasi. Kemudian organisisi menentukan spesifikasi
jabatan, yaitu jenis jabatan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk
melaksanakanya. Setelah itu, organisasi orgainisasi mengestimasi jumlah
karyawan dan mempertimbangkan persediaan karyawan. Dan yang terakhir adalah
penetapan program kegiatan.
Pengembangan Sumber-sumber Penawaran Personalia.
Sumber dari mana karyawan dapat ditarik untuk mengisi
suatu jabatan dibedakan menjadi dua, yaitu sumber internal dan eksternal.
Manajer lebih menyukai menggunakan sumber internal, karena dapat memotivasi
personalia. Ada tiga sumber internal, yaitu :
1. Penataran
(upgrading), dimana para karyawan yang memegang suatu posisi sekarang diberi
pelatihan guna mengembangkan kualitas kerjanya.
2. Pemindahan
(transferring),yaitu pemindahan karyawan dari posisi yang kurang baik ke posisi
yang lebih baik.
3. Pengangkatan
(promoting), yaitu karyawan dari tingkat bawah diangkat ke tingkat atas.
Sumber eksternal karyawan yang digunakan tergantung pada
jabatan yang akan diisi, jenis tenaga kerja dan kondisi ekonomi. Antara lain,
contoh dari sumber eksternal adalah sekolah, perusahaan pesaing, organisasi
karyawan, lamaran pribadi, migrasi serta kantor penempatan tenaga kerja.
Penarikan dan Seleksi Karyawan
Penarikan personalia adalah suatu usaha yang bekenaan
dengan pencarian dan penarikan sejumlah karyawan potensial yang diseleksi untuk
memenuhi kebutuhan organisasi.Metode penarikan yang biasanya digunakan meliputi
: pengiklanan, leasing, rekomendasi dari karyawan yang sedang bekerja,
penarikan lewat lembaga pendidikan dan kantor penempatan tenaga kerja.
Seleksi adalah pemilihan seseorang tertentu dari
sekelompok karyawan potensial guna mengisi suatu jabatan tertentu. Adapun
beberapa prosedur seleksi adalah sebagai berikut :
1. Wawancara
2. Pengumpulan data
pribadi
3. Pengujian
4. Tes wawancara yang
lebih mendalam
5. Pemeriksaan refrensi
prestasi
6. Pemeriksaan kesehatan
7. Keputusan pribadi
8. Orientasi jabatan
Beberapa faktor yang dicari oleh perusahaan dari para
karyawan :
1. Latar belakang
pribadi
2. Bakat dan minat
3. Sikap dan kebutuhan
4. Kemampuan analitif
dan manipulatife
5. Ketrampilan dan
kemampuan teknik.
6. Kesehatan dan stamina
Orientasi
Karyawan Baru
Orientasi kadang dikenal sebagai tahap induksi. Yaitu
kegiatan pengenalan dan penyesuaian karyawan baru dengan organisasi. Proses ini
dapat berupa pengenalan sederhana terhadap karyawan lama.Lebih lanjut proses
ini meliputi pemberian informasi mengenai kebijaksanaan personalia, prosedur
kerja, sifat perusahaan dan manfaat yang diperoleh karyawan baru.
LATIHAN DAN PENGEMBANGAN KARYAWAN
Tujuan latihan dan pengembangan karyawan adalah untuk
memperbaiki efektivitas kerja para karyawan guna mencapai hasil kerja yang
telah ditetapkan. Latihan dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan ketrampilan
dan teknik dalam pelaksanaan pekerjaan tertentu, terperinci dan rutin.
Sedangakan pengembangan memiliki ruang lingkup yang lebih luas, yaitu
peningkatan kemampuan, sikap dan sifat kepribadian.
Pada umumnya,
karyawan dikembangangkan dengan metode “on the job” dan “off the job”. Metode
“on the job” yang biasa digunakan adalah :
1. Coaching
2. Planned progression
3. Rotasi jabatan
4. Penugasan sementara
5. Sistem penilaian prestasi formal.
Sedangkan metode “off
the job” yang biasa digunakan adalah :
1. Program pengembangan eksekutif
2. Latihan laboratorium
3. Pengembangan organisasi
PEMBERIAN KOMPENSASI
KEPADA KARYAWAN
Kompensasi adalah pembayaran financial
kepada karyawan sebagai balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dan juga
sebagai motivator untuk pelaksanaan pekerjaan di masa mendatang.Kompensasi
sangat penting bagi karyawan, karena upah merupakan suatu ukuran nilai karya
mereka. Beberapa kebijakan dalam penentuan kompensasi adalah sebagai berikut :
1. Kesediaan membayar
2. Kemampuan membayar
3. Persyaratan membayar
Pemeliharaan
Kesehatan dan Keamanan.
Program ini dapat dilakukan dengan penyediaan dokter dan klinik kesehatan
perusahaan. Dapat pula berupa pengaturan tempat kerja yang sehat dan aman.Hal
ini dilakukan untuk menjaga efektifitas kerja dari perusahaan.
A. PENGERTIAN
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Manajemen sumber daya
manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup
karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat
menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Bagian atau unit yang biasanya mengurusi sdm adalah departemen
sumber daya manusia atau dalam bahasa inggris disebut HRD atau human resource
department. Menurut A.F. Stoner manajemen sumber daya manusia adalah suatu
prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk memasok suatu organisasi atau
perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan
jabatan yang tepat pada saat organisasi memerlukannya.
Manajemen sumber daya manusia juga menyangkut desain sistem perencanaan, penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik. Manajemen sumber daya manusia melibatkan semua keputusan dan praktik manajemen yang memengaruhi secara langsung sumber daya manusianya.
Berikut ini adalah pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) menurut para ahli:
1. Menurut Melayu SP. Hasibuan.
MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
2. Menurut Henry Simamora
MSDM adalah sebagai pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balasan jasa dan pengelolaan terhadap individu anggota organisasi atau kelompok bekerja.
MSDM juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan, penyusunan personalia, pengembangan karyawan, pengeloaan karir, evaluasi kerja, kompensasi karyawan dan hubungan perburuhan yang mulus.
3. Menurut Achmad S. Rucky
MSDM adalah penerapan secara tepat dan efektif dalam proses akusis, pendayagunaan, pengemebangan dan pemeliharaan personil yang dimiliki sebuah organisasi secara efektif untuk mencapai tingkat pendayagunaan sumber daya manusia yang optimal oleh organisasi tersebut dalam mencapai tujuan-tujuannya.
4. Menurut Mutiara S. Panggabean
MSDM adalah proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pimpinan dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembngan, kompensasi, promosi dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dari definisi di atas, menurut Mutiara S. Panggabaean bahwa, kegiatan di bidang sumber daya manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sisi pekerjaan dan dari sisi pekerja.
Dari sisi pekerjaan terdiri dari analisis dan evaluasi pekerjaan. Sedangkan dari sisi pekerja meliputi kegiatan-kegiatan pengadaan tenaga kerja, penilaian prestasi kerja, pelatihan dan pengembangan, promosi, kompensasi dan pemutusan hubungan kerja.
Dengan definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli tersebut menunjukan demikian pentingnya manajemen sumber daya manusia di dalam mencapai tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.Unsur manajemen (Tool of management), biasa dikenalMarket/marketing, pasar
Manajemen sumber daya manusia juga menyangkut desain sistem perencanaan, penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik. Manajemen sumber daya manusia melibatkan semua keputusan dan praktik manajemen yang memengaruhi secara langsung sumber daya manusianya.
Berikut ini adalah pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) menurut para ahli:
1. Menurut Melayu SP. Hasibuan.
MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
2. Menurut Henry Simamora
MSDM adalah sebagai pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balasan jasa dan pengelolaan terhadap individu anggota organisasi atau kelompok bekerja.
MSDM juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan, penyusunan personalia, pengembangan karyawan, pengeloaan karir, evaluasi kerja, kompensasi karyawan dan hubungan perburuhan yang mulus.
3. Menurut Achmad S. Rucky
MSDM adalah penerapan secara tepat dan efektif dalam proses akusis, pendayagunaan, pengemebangan dan pemeliharaan personil yang dimiliki sebuah organisasi secara efektif untuk mencapai tingkat pendayagunaan sumber daya manusia yang optimal oleh organisasi tersebut dalam mencapai tujuan-tujuannya.
4. Menurut Mutiara S. Panggabean
MSDM adalah proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pimpinan dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembngan, kompensasi, promosi dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dari definisi di atas, menurut Mutiara S. Panggabaean bahwa, kegiatan di bidang sumber daya manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sisi pekerjaan dan dari sisi pekerja.
Dari sisi pekerjaan terdiri dari analisis dan evaluasi pekerjaan. Sedangkan dari sisi pekerja meliputi kegiatan-kegiatan pengadaan tenaga kerja, penilaian prestasi kerja, pelatihan dan pengembangan, promosi, kompensasi dan pemutusan hubungan kerja.
Dengan definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli tersebut menunjukan demikian pentingnya manajemen sumber daya manusia di dalam mencapai tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.Unsur manajemen (Tool of management), biasa dikenalMarket/marketing, pasar
B. Model Manajemen Sumber Daya Manusia
Di dalam memahami berbagai permasalahan pada manajelen sumber daya manusia dan sekaligus dapat menentukan cara pemecahannya perlu diketahui lebih dahulu model-model yang digunakan oleh perusahaan kecil tidak bias menerapkan model yang biasa digunakan oleh perusahaan besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam perkembangan model-model ini berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi serta tuntutannya.
Untuk menyusun berbagai aktifitas manajemen sumber daya manusia ada 6 (enam) model manajemen sumber daya manusia yaitu:
1. Model Klerikal
Dalam model ini fungsi departemen sumber daya manusia yang terutama adalah memperoleh dan memelihara laporan, data, catatan-catatan dan melaksanakan tugas-tugas rutin. Fungsi departemen sumber daya manusia menangani kertas kerja yang dibutuhkan, memenuhi berbagai peraturan dan melaksanakan tugas-tugas kepegawaian rutin.
2. Model Hukum
Dalam model ini, operasi sumber daya manusia memperoleh kekutannya dari keahlian di bidang hukum. Aspek hukum memiliki sejarah panjang yang berawal dari hubungan perburuhan, di masa negosiasi kontrak, pengawasan dan kepatuhan merupakan fungsi pokok disebabkan adanya hubungan yang sering bertentangan antara manajer dengan karyawan.
3. Model Finansial
Aspek pinansial manajemen sumber daya manusia belakangna ini semakin berkembang karena para manajer semakin sadar akan pengaruh yang besar dari sumber daya manusia ini meliputi biaya kompensasi tidak langsung seperti biaya asuransi kesehatan, pension, asuransi jiwa, liburan dan sebagainya, kebutuhan akan keahlian dalam mengelola bidang yang semakin komplek ini merupakan penyebab utama mengapa para manajer sumber daya manusia semakin meningkat.
4. Model Manjerial
Model manajerial ini memiliki dua versi yaitu versi pertama manajer sumber daya manusia memahami kerangka acuan kerja manajer lini yang berorientasi pada produktivitas. Versi kedua manajer ini melaksanakan beberpa fungsi sumber daya manusia.
Departemen sumber daya manusia melatih manajer lini jdalam keahlian yang diperlukan untuk menangani fungsi-fungsi kunci sumber daya manusia seperti pengangkatan, evaluasi kinerja dan pengembangan. Karena karyawan pada umumnya lebih senang berinteraksi dengan manajer mereka sendiri disbanding dengan pegawai staf, maka beberapa departemen sumber daya manusia dapat menunjukan manajer lini untuk berperan sebagai pelatih dan fsilitator.
5. Model Humanistik
Ide sentral dalam model ini adalah bahwa, departemen sumber daya manusia dibentuk untuk mengembangkan dan membantu perkembangan nilai dan potensi sumber daya manusia di dalam organisasi. Spesialis sumber daya manusia harus memahami individu karyawan dan membantunya memaksimalkan pengembangan diri dan peningkatan karir.
Model ini menggabarkan tumbuhnya perhatian organisasi terhadap pelatihan dan pengembangan karyawan mereka.
6. Model Ilmu Perilaku
Model ini menganggap bahwa, ilmu perilaku seperti psikologi dan perilaku organisasi merupakan dasar aktivitas sumber daya manusia. Prinsipnya adlah bahwa sebuah pendekatan sains terhadap perilaku manusia dapa diterpkan pada hampir semua permasalahan sumber daya manusia bidang sumber daya manusias yang didasarkan pada prinsip sains meliputi teknik umpan balik, evaluasi, desain program dan tujuan pelatihan serta manajemen karir.
C. Fungsi manajemen
1. Perencanaan
Perencanaan adalah usaha sadar dalam pengambilan keputusan yang telah diperhitungkan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa depan dalam dan oleh suatu organisasidalam rangka pencapaian tujuan yang telah dilakukan sebelumnya.
2. Rekrutmen
Menurut Schermerhorn, 1997 Rekrutmen (Recruitment) adalah proses penarikan sekelompok kandidat untuk mengisi posisi yang lowong. Perekrutan yang efektif akan membawa peluang pekerjaan kepada perhatian dari orang-orang yang berkemampuan dan keterampilannya memenuhi spesifikasi pekerjaan.
3. Seleksi
Seleksi tenaga kerja adalah suatu proses menemukan tenaga kerja yang tepat dari sekian banyak kandidat atau calon yang ada. Tahap awal yang perlu dilakukan setelah menerima berkas lamaran adalah melihat daftar riwayat hidup / cv / curriculum vittae milik pelamar. Kemudian dari cv pelamar dilakukan penyortiran antara pelamar yang akan dipanggil dengan yang gagal memenuhi standar suatu pekerjaan. Lalu berikutnya adalah memanggil kandidat terpilih untuk dilakukan ujian test tertulis, wawancara kerja / interview dan proses seleksi lainnya.
4. Orientasi, Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan kinerja tenga kera.(Simamora:2006:273). Menurut pasal I ayat 9 undang-undang No.13 Tahun 2003. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan.
Pengembangan (development) diartikan sebagai penyiapan individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang Iebih tinggi dalam perusahaan, organisasi, lembaga atau instansi pendidikan,
Menurut (Hani Handoko:2001:104) pengertian latihan dan pengembangan adalah berbeda. Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagal ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin. Yaitu latihan rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang. Sedangkan pengembangan (Developrnent) mempunyai ruang lingkup Iebih luas dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dlan sifat-sifat kepribadian.
5. Evalauasi Kinerja
Evaluasi sama pentingnya dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya, yaitu perencanaan, pengorganisasian atau pelaksanaan, pemantauan (monitoring) dan pengendalian. Terkadang fungsi monitoring dan fungsi evaluasi, sulit untuk dipisahkan. Penyusunan sistem dalam organisasi dan pembagian tugas, fungsi serta pembagian peran pihak-pihak dalam organisasi, adakalanya tidak perlu dipisah-pisah secara nyata. Fungsi manajemen puncak misalnya, meliputi semua fungsi dari perencanaan sampai pengendalian. Oleh karena itu, evaluasi sering dilakukan oleh pimpinan organisasi dalam suatu rapat kerja, rapat pimpinan, atau temu muka, baik secara reguler maupun dalam menghadapi kejadian-kejadian khusus lainnya.
Sebagai bagian dari fungsi manajemen, fungsi evaluasi tidaklah berdiri sendiri. Fungsi-fungsi seperti fungsi pemantauan dan pelaporan sangat erat hubungannya dengan fungsi evaluasi. Di samping untuk melengkapi berbagai fungsi di dalam fungsi-fungsi manajemen, evaluasi sangat bermanfaat agar organisasi tidak mengulangi kesalahan yang sama setiap kali.
6. Komensasi
Pmberian balas jasa langsung dan tidak langsung berbentuk uang atau barang kepada karyawan sebagai imbal jasa( output) yang diberikannya kepada perusahaan. Prinsip Kompensasi adalah adil dan layak sesuai prestasi dan tanggung jawab.
7. Pengintegrasian
Kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, sehingga tercipta kerjasama yang serasi da saling menguntungkan.
8. Pemeliharaan
Kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan agar tercipta kerjasama yang panjang.
9. Pemberhentian
Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antar pekerja dan pengusaha.
Sedangkan menurut Moekijat mengartikan bahwa Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerjas seseorang karyawan dengan suatu organisasi perusahaan.
D. Tujuan manajemen SDM adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Sosial
Tujuan sosial manajemen sumber daya manusia adalah agar organisasi atau perusahaan bertanggungjawab secara sosial dan etis terhadap keutuhan dan tantangan masyarakat dengan meminimalkan dampak negatifnya.
b. Tujuan Organisasional
Tujuan organisasional adalah sasaran formal yang dibuat untuk membantu organisasi mencapai tujuannya.
c. Tujuan Fungsional
Tujuan fungsional adalah tujuan untuk mempertahankan kontribusi departemen sumber daya manusia pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
d. Tujuan Individual
Tujuan individual adalah tujuan pribadi dari tiap anggota organisasi atau perusahaan yang hendak mencapai melalui aktivitasnya dalam organisasi.
Di dalam memahami berbagai permasalahan pada manajelen sumber daya manusia dan sekaligus dapat menentukan cara pemecahannya perlu diketahui lebih dahulu model-model yang digunakan oleh perusahaan kecil tidak bias menerapkan model yang biasa digunakan oleh perusahaan besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam perkembangan model-model ini berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi serta tuntutannya.
Untuk menyusun berbagai aktifitas manajemen sumber daya manusia ada 6 (enam) model manajemen sumber daya manusia yaitu:
1. Model Klerikal
Dalam model ini fungsi departemen sumber daya manusia yang terutama adalah memperoleh dan memelihara laporan, data, catatan-catatan dan melaksanakan tugas-tugas rutin. Fungsi departemen sumber daya manusia menangani kertas kerja yang dibutuhkan, memenuhi berbagai peraturan dan melaksanakan tugas-tugas kepegawaian rutin.
2. Model Hukum
Dalam model ini, operasi sumber daya manusia memperoleh kekutannya dari keahlian di bidang hukum. Aspek hukum memiliki sejarah panjang yang berawal dari hubungan perburuhan, di masa negosiasi kontrak, pengawasan dan kepatuhan merupakan fungsi pokok disebabkan adanya hubungan yang sering bertentangan antara manajer dengan karyawan.
3. Model Finansial
Aspek pinansial manajemen sumber daya manusia belakangna ini semakin berkembang karena para manajer semakin sadar akan pengaruh yang besar dari sumber daya manusia ini meliputi biaya kompensasi tidak langsung seperti biaya asuransi kesehatan, pension, asuransi jiwa, liburan dan sebagainya, kebutuhan akan keahlian dalam mengelola bidang yang semakin komplek ini merupakan penyebab utama mengapa para manajer sumber daya manusia semakin meningkat.
4. Model Manjerial
Model manajerial ini memiliki dua versi yaitu versi pertama manajer sumber daya manusia memahami kerangka acuan kerja manajer lini yang berorientasi pada produktivitas. Versi kedua manajer ini melaksanakan beberpa fungsi sumber daya manusia.
Departemen sumber daya manusia melatih manajer lini jdalam keahlian yang diperlukan untuk menangani fungsi-fungsi kunci sumber daya manusia seperti pengangkatan, evaluasi kinerja dan pengembangan. Karena karyawan pada umumnya lebih senang berinteraksi dengan manajer mereka sendiri disbanding dengan pegawai staf, maka beberapa departemen sumber daya manusia dapat menunjukan manajer lini untuk berperan sebagai pelatih dan fsilitator.
5. Model Humanistik
Ide sentral dalam model ini adalah bahwa, departemen sumber daya manusia dibentuk untuk mengembangkan dan membantu perkembangan nilai dan potensi sumber daya manusia di dalam organisasi. Spesialis sumber daya manusia harus memahami individu karyawan dan membantunya memaksimalkan pengembangan diri dan peningkatan karir.
Model ini menggabarkan tumbuhnya perhatian organisasi terhadap pelatihan dan pengembangan karyawan mereka.
6. Model Ilmu Perilaku
Model ini menganggap bahwa, ilmu perilaku seperti psikologi dan perilaku organisasi merupakan dasar aktivitas sumber daya manusia. Prinsipnya adlah bahwa sebuah pendekatan sains terhadap perilaku manusia dapa diterpkan pada hampir semua permasalahan sumber daya manusia bidang sumber daya manusias yang didasarkan pada prinsip sains meliputi teknik umpan balik, evaluasi, desain program dan tujuan pelatihan serta manajemen karir.
C. Fungsi manajemen
1. Perencanaan
Perencanaan adalah usaha sadar dalam pengambilan keputusan yang telah diperhitungkan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa depan dalam dan oleh suatu organisasidalam rangka pencapaian tujuan yang telah dilakukan sebelumnya.
2. Rekrutmen
Menurut Schermerhorn, 1997 Rekrutmen (Recruitment) adalah proses penarikan sekelompok kandidat untuk mengisi posisi yang lowong. Perekrutan yang efektif akan membawa peluang pekerjaan kepada perhatian dari orang-orang yang berkemampuan dan keterampilannya memenuhi spesifikasi pekerjaan.
3. Seleksi
Seleksi tenaga kerja adalah suatu proses menemukan tenaga kerja yang tepat dari sekian banyak kandidat atau calon yang ada. Tahap awal yang perlu dilakukan setelah menerima berkas lamaran adalah melihat daftar riwayat hidup / cv / curriculum vittae milik pelamar. Kemudian dari cv pelamar dilakukan penyortiran antara pelamar yang akan dipanggil dengan yang gagal memenuhi standar suatu pekerjaan. Lalu berikutnya adalah memanggil kandidat terpilih untuk dilakukan ujian test tertulis, wawancara kerja / interview dan proses seleksi lainnya.
4. Orientasi, Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan kinerja tenga kera.(Simamora:2006:273). Menurut pasal I ayat 9 undang-undang No.13 Tahun 2003. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan.
Pengembangan (development) diartikan sebagai penyiapan individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang Iebih tinggi dalam perusahaan, organisasi, lembaga atau instansi pendidikan,
Menurut (Hani Handoko:2001:104) pengertian latihan dan pengembangan adalah berbeda. Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagal ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin. Yaitu latihan rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang. Sedangkan pengembangan (Developrnent) mempunyai ruang lingkup Iebih luas dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dlan sifat-sifat kepribadian.
5. Evalauasi Kinerja
Evaluasi sama pentingnya dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya, yaitu perencanaan, pengorganisasian atau pelaksanaan, pemantauan (monitoring) dan pengendalian. Terkadang fungsi monitoring dan fungsi evaluasi, sulit untuk dipisahkan. Penyusunan sistem dalam organisasi dan pembagian tugas, fungsi serta pembagian peran pihak-pihak dalam organisasi, adakalanya tidak perlu dipisah-pisah secara nyata. Fungsi manajemen puncak misalnya, meliputi semua fungsi dari perencanaan sampai pengendalian. Oleh karena itu, evaluasi sering dilakukan oleh pimpinan organisasi dalam suatu rapat kerja, rapat pimpinan, atau temu muka, baik secara reguler maupun dalam menghadapi kejadian-kejadian khusus lainnya.
Sebagai bagian dari fungsi manajemen, fungsi evaluasi tidaklah berdiri sendiri. Fungsi-fungsi seperti fungsi pemantauan dan pelaporan sangat erat hubungannya dengan fungsi evaluasi. Di samping untuk melengkapi berbagai fungsi di dalam fungsi-fungsi manajemen, evaluasi sangat bermanfaat agar organisasi tidak mengulangi kesalahan yang sama setiap kali.
6. Komensasi
Pmberian balas jasa langsung dan tidak langsung berbentuk uang atau barang kepada karyawan sebagai imbal jasa( output) yang diberikannya kepada perusahaan. Prinsip Kompensasi adalah adil dan layak sesuai prestasi dan tanggung jawab.
7. Pengintegrasian
Kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, sehingga tercipta kerjasama yang serasi da saling menguntungkan.
8. Pemeliharaan
Kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan agar tercipta kerjasama yang panjang.
9. Pemberhentian
Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antar pekerja dan pengusaha.
Sedangkan menurut Moekijat mengartikan bahwa Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerjas seseorang karyawan dengan suatu organisasi perusahaan.
D. Tujuan manajemen SDM adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Sosial
Tujuan sosial manajemen sumber daya manusia adalah agar organisasi atau perusahaan bertanggungjawab secara sosial dan etis terhadap keutuhan dan tantangan masyarakat dengan meminimalkan dampak negatifnya.
b. Tujuan Organisasional
Tujuan organisasional adalah sasaran formal yang dibuat untuk membantu organisasi mencapai tujuannya.
c. Tujuan Fungsional
Tujuan fungsional adalah tujuan untuk mempertahankan kontribusi departemen sumber daya manusia pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
d. Tujuan Individual
Tujuan individual adalah tujuan pribadi dari tiap anggota organisasi atau perusahaan yang hendak mencapai melalui aktivitasnya dalam organisasi.
DEPARTEMENTASI
A. Pengertian Departementasi
Departementasi adalah aktivitas untuk menyusun satuan satuan organisasi yang akan diserahi bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu.
Efesiensi kerja tergantung kepada keberhasilan integrasi satuan-satuan yang bermacam-macam dalam organisasi. Proses penentuan cara bagaimana kegiatan dikelompokkan disebutkan departementasi
B. Pembagian Departementasi
Macam bentuk departementasi yaitu:
1. Departementasi Fungsional
Departemen Fungsional adalah pengelompokan fungsi yang sama atau kegiatan yang sejenis untuk membentuk satuan organisasi. Ini merupakan bentuk organisasi yang paling umum dan bentuk dasar departementasi.
Individu dikelompokkan berdasarkan ketrampilan, pengetahuan, dan tindakan yang dilakukan. Misalnya organisasi hanya terbagi dalam bagian administrasi, dan bagian operasi.
Pembentukan satuan satuan organisasi yang masing masing diserahi mengurus sekelompok aktivitas yang tergolong sejenis menurut sifatnya atau pelaksanaan pekerjaan pekerjaan yang berkaitan
2. Departementasi Devisional
Departementasi berdasarkan divisi melihat produk, layanan, dan klien sebagai faktor dasar pengelompokan. Pola ini digunakan untuk memudahkan usaha antisipasi ancaman atau oportuniti dari luar organisasi. Misalnya pada organisasi otomotif, organisasi terbagi atas divisi otomotif, divisi internasional, divisi keuangan.
Dengan membagi divisi-divisi atas dasar produk, wilayah, langganan, dan proses, dimana tiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri. Struktur organisasinya terdiri dari:
a. Struktur organisasi atas dasar produk
Setiap departementasi bertanggung jawab atas suatu produk yang berhubungan. Struktur ini dipakai bila teknologi pemrosesan dan metode pemasaran sangat berbeda.
b. Struktur organisasi atas dasar wilayah
Pengelompokan kegiatan atas dasar tempat dimana operasi berlokasi atau menjalankan usahanya. Faktor yang menjadi pertimbangan adalah bahan baku, tenaga kerja, pemasaran, transportasi dan lain sebagainya.
c. Struktur organisasi atas dasar langganan
Pengelompokan kegiatan yang dipusatkan pada penggunaan produk, terutama dalam kegiatan pengelompokan penjualan, pelayanan.
d. Struktur organisasi atas dasar proses
Pengelompokan kegiatan atas dasar proses yang sering dijumpai dalam departemen produksi. Kegiatan-kegiatan ini dapat dikelompokan menjadi departemen pemboran, penggilingan, penggergajian, perakitan dan penyelesaian terakhir. Ini digunakan atas dasar pertimbangan ekonomis.
e. Struktur organisasi atas dasar alphanumerical
Dapat digunakan pada pelayanan telepon, misalnya nomor 000000500000 ditempatkan dalam satu departemen dan lainnya di tempatkan di departemen yang lain juga.
Departementasi adalah aktivitas untuk menyusun satuan satuan organisasi yang akan diserahi bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu.
Efesiensi kerja tergantung kepada keberhasilan integrasi satuan-satuan yang bermacam-macam dalam organisasi. Proses penentuan cara bagaimana kegiatan dikelompokkan disebutkan departementasi
B. Pembagian Departementasi
Macam bentuk departementasi yaitu:
1. Departementasi Fungsional
Departemen Fungsional adalah pengelompokan fungsi yang sama atau kegiatan yang sejenis untuk membentuk satuan organisasi. Ini merupakan bentuk organisasi yang paling umum dan bentuk dasar departementasi.
Individu dikelompokkan berdasarkan ketrampilan, pengetahuan, dan tindakan yang dilakukan. Misalnya organisasi hanya terbagi dalam bagian administrasi, dan bagian operasi.
Pembentukan satuan satuan organisasi yang masing masing diserahi mengurus sekelompok aktivitas yang tergolong sejenis menurut sifatnya atau pelaksanaan pekerjaan pekerjaan yang berkaitan
2. Departementasi Devisional
Departementasi berdasarkan divisi melihat produk, layanan, dan klien sebagai faktor dasar pengelompokan. Pola ini digunakan untuk memudahkan usaha antisipasi ancaman atau oportuniti dari luar organisasi. Misalnya pada organisasi otomotif, organisasi terbagi atas divisi otomotif, divisi internasional, divisi keuangan.
Dengan membagi divisi-divisi atas dasar produk, wilayah, langganan, dan proses, dimana tiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri. Struktur organisasinya terdiri dari:
a. Struktur organisasi atas dasar produk
Setiap departementasi bertanggung jawab atas suatu produk yang berhubungan. Struktur ini dipakai bila teknologi pemrosesan dan metode pemasaran sangat berbeda.
b. Struktur organisasi atas dasar wilayah
Pengelompokan kegiatan atas dasar tempat dimana operasi berlokasi atau menjalankan usahanya. Faktor yang menjadi pertimbangan adalah bahan baku, tenaga kerja, pemasaran, transportasi dan lain sebagainya.
c. Struktur organisasi atas dasar langganan
Pengelompokan kegiatan yang dipusatkan pada penggunaan produk, terutama dalam kegiatan pengelompokan penjualan, pelayanan.
d. Struktur organisasi atas dasar proses
Pengelompokan kegiatan atas dasar proses yang sering dijumpai dalam departemen produksi. Kegiatan-kegiatan ini dapat dikelompokan menjadi departemen pemboran, penggilingan, penggergajian, perakitan dan penyelesaian terakhir. Ini digunakan atas dasar pertimbangan ekonomis.
e. Struktur organisasi atas dasar alphanumerical
Dapat digunakan pada pelayanan telepon, misalnya nomor 000000500000 ditempatkan dalam satu departemen dan lainnya di tempatkan di departemen yang lain juga.
B. Kebaikan dan Kelemahan
1. Departementasi Fungsional
Kebaikan :
1. Pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama.
2. Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi.
3. Memusatkan keahlian organisasi.
4. Memungkinkan pengawasan manajemen puncak
5. Tugasnya jelas
6. Pengetahuan yang dibutuhkan tidak banyak
7. Hanya membutuhkan manajer saja yang harus berwawasan luas
8. Mudah dijelaskan pada anggota bila ada persoalan
Kelemahan :
1. Menciptakan konflik antar fungsi.
2. Adanya kemacetan pelaksanaan tugas.
3. Umpan balik yang lambat.
4. Memusatkan pada kepentingan tugasnya.
5. Para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif
6. Kejenuhan akibat monotonnya aktivitas
7. Komunikasi antar area tidak lancar terutama bila ada problem
8. Individu dalam bekerja hanya memperhatikan struktur hierarki.
2. Departementasi Devisional
Kebaikan :
1. Semua kegiatan, ketrampilan, keahlian untuk memproduksi dan
memasarkan dikelompokan menjadi satu dibawah seorang kepala.
2. Semua kegiatan mudah untuk dikoordinasidan prestasi kerja terpelihara.
3. Kualitas dan kecepatan membuat keputusan meningkat.
4. Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan
lingkungan divisi yang khas
5. Merumuskan tanggung – jawab dengan jelas dan perhatian
dipusatkan pertanggungjawaban atas prestasi kerja.
6. Membebaskan para kepala eksekutif dalam pembuatan keputusan strategi lebih luas.
7. Cocok untuk lingkungan yang cepat berubah.
8. Mempertahankan spesialisasi fungsional dalam setiap divisi.
Kelemahan :
1. Berkembangnya persaingan disfungsional potensial atas sumber daya
perusahaan dan konflik antara tugas dan prioritas.
2. Seberapa besar delegasi wewenang diberikan.
3. Masalah kebijaksanaan dalam alokasi sumber daya dan distribusi
biaya overhead perusahaan.
4. Menimbulkan konsistensi kebijaksanaan antar divisi.
5. Masalah duplikasi sumber daya dan perlatan yang tidak perlu
6. Masing-masing divisi bisa menghadapi problem yang sama sehingga
terjadi pengulangan dalam pengatasannya
7. Target divisi bisa mengalahkan target organisasi
8. Konflik antar divisi bisa terjadi, bila terjadi problem organisasi, maka
membutuhkan orang yang sangat ahli dan menguasai banyak hal
1. Departementasi Fungsional
Kebaikan :
1. Pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama.
2. Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi.
3. Memusatkan keahlian organisasi.
4. Memungkinkan pengawasan manajemen puncak
5. Tugasnya jelas
6. Pengetahuan yang dibutuhkan tidak banyak
7. Hanya membutuhkan manajer saja yang harus berwawasan luas
8. Mudah dijelaskan pada anggota bila ada persoalan
Kelemahan :
1. Menciptakan konflik antar fungsi.
2. Adanya kemacetan pelaksanaan tugas.
3. Umpan balik yang lambat.
4. Memusatkan pada kepentingan tugasnya.
5. Para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif
6. Kejenuhan akibat monotonnya aktivitas
7. Komunikasi antar area tidak lancar terutama bila ada problem
8. Individu dalam bekerja hanya memperhatikan struktur hierarki.
2. Departementasi Devisional
Kebaikan :
1. Semua kegiatan, ketrampilan, keahlian untuk memproduksi dan
memasarkan dikelompokan menjadi satu dibawah seorang kepala.
2. Semua kegiatan mudah untuk dikoordinasidan prestasi kerja terpelihara.
3. Kualitas dan kecepatan membuat keputusan meningkat.
4. Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan
lingkungan divisi yang khas
5. Merumuskan tanggung – jawab dengan jelas dan perhatian
dipusatkan pertanggungjawaban atas prestasi kerja.
6. Membebaskan para kepala eksekutif dalam pembuatan keputusan strategi lebih luas.
7. Cocok untuk lingkungan yang cepat berubah.
8. Mempertahankan spesialisasi fungsional dalam setiap divisi.
Kelemahan :
1. Berkembangnya persaingan disfungsional potensial atas sumber daya
perusahaan dan konflik antara tugas dan prioritas.
2. Seberapa besar delegasi wewenang diberikan.
3. Masalah kebijaksanaan dalam alokasi sumber daya dan distribusi
biaya overhead perusahaan.
4. Menimbulkan konsistensi kebijaksanaan antar divisi.
5. Masalah duplikasi sumber daya dan perlatan yang tidak perlu
6. Masing-masing divisi bisa menghadapi problem yang sama sehingga
terjadi pengulangan dalam pengatasannya
7. Target divisi bisa mengalahkan target organisasi
8. Konflik antar divisi bisa terjadi, bila terjadi problem organisasi, maka
membutuhkan orang yang sangat ahli dan menguasai banyak hal



0 komentar:
Posting Komentar